Postingan

Minggir dan Menepi

Aku sering berpikir, manusia sebenarnya punya kemampuan yang cukup baik untuk membaca perubahan. Dari cara seseorang bersikap, waktu yang tak lagi sama, hingga hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Masalahnya, memahami sesuatu tidak selalu berarti bersedia mengakuinya. Aku termasuk orang yang bengal dalam urusan ini. Kalau belum melihat sendiri, aku sulit percaya. Bahkan ketika tanda-tandanya sudah cukup jelas, selalu saja muncul alasan untuk menunda kesimpulan. Bisa jadi aku salah membaca. Bisa jadi keadaan sedang tidak memungkinkan. Atau jangan-jangan aku hanya terlalu jauh memikirkan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Begitulah caraku bernegosiasi dengan pikiran sendiri. Padahal, semakin lama, semakin banyak hal yang berubah. Percakapan tidak lagi seperti sebelumnya. Waktu mulai memiliki prioritas berbeda. Beberapa sikap terasa asing, meski datang dari orang yang sama. Aku melihat semuanya. Hanya saja, aku lebih suka mencari penjelasan daripada menerima kenyataan yang ...

Kura Kura

Aku seorang kura-kura. Bertahun-tahun aku belajar bersembunyi di dalam tempurung. Bukan karena aku takut pada dunia, tetapi karena aku pernah tahu bagaimana rasanya terluka olehnya. Di dalam sana, aku merasa aman. Tak banyak yang bisa menyentuh. Tak banyak pula yang bisa menghancurkan. Sampai suatu waktu, entah karena lupa atau karena merasa sudah sembuh, aku mulai mengeluarkan kepala. Lalu kaki. Pelan-pelan aku berjalan lagi. Membiarkan seseorang mendekat. Membiarkan kepercayaan tumbuh, tanpa banyak bertanya apakah dunia sudah berubah atau hanya aku yang sedang lengah. Ternyata waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang ia hanya membuat kita lupa di mana letak luka. Dan hari ini aku kembali terluka. Bukan hanya karena seseorang. Tapi karena aku kembali menyalahkan diriku sendiri. Mengapa keluar dari tempurung? Mengapa percaya lagi? Mengapa mengira kali ini akan berbeda? Mungkin aku memang bodoh. Atau mungkin, menjadi kura-kura bukan berarti harus selamanya bersembunyi. Mungkin aku hanya ...

Kepercayaan

Mula-mula ia hanya sebuah pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Lalu angin keluar masuk membawa nama-nama. Ada yang tinggal. Ada yang membawa pulang kuncinya. Sejak itu pintu masih ada. Yang berubah hanyalah caraku mendengar ketukan 🌿

Orang Asing yang Pernah Akrab

Namamu masih seperti dulu. Aku pun masih mengenal cara suaramu jatuh di ujung kalimat. Yang berubah hanya jarak. Kini kita saling lewat seperti dua musim yang pernah bertemu lalu lupa cara menetap.

Adakah Foto yang Benar-Benar Orisinal?

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu setiap kali aku mengangkat kamera... Adakah foto yang benar-benar orisinal? Pertanyaan ini terdengar sederhana, hampir seperti pertanyaan iseng yang lewat begitu saja. Tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa ia justru menggerogoti dasar dari banyak hal yang kita yakini tentang fotografi. Sebab kalau mau jujur, hampir semua yang kita potret sudah pernah dipotret oleh orang lain. Jalanan. Wajah manusia. Bayangan. Refleksi. Langit sore. Gerak tubuh. Jendela. Kursi. Laut. Pasar. Kesunyian. Keramaian. Semua itu bukan benda baru. Semua itu bukan subjek yang menunggu ditemukan pertama kali oleh kita. Lalu, apa sebenarnya yang masih tersisa untuk disebut baru? Di titik itulah pertanyaan tentang orisinalitas mulai terasa tidak sesederhana slogan. Kita tumbuh dengan gagasan bahwa karya yang baik harus berbeda, harus segar, harus punya identitas yang segera dikenali. Dalam dunia yang bergerak cepat, kebaruan seperti mata uang yang paling dibu...