Tidak Harus Selesai Hari Ini

Sore sering kali menjadi waktu yang aneh untuk merasa kehilangan.

Hari belum benar-benar berakhir, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa selesai lebih dulu.

Mungkin begitulah perubahan dalam sebuah hubungan bekerja. Tidak selalu dimulai dengan pertengkaran besar. Tidak selalu ada ucapan selamat tinggal. Kadang tandanya sangat sederhana... percakapan yang semakin pendek, jeda yang semakin panjang, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang perlahan tidak lagi terdengar.

Sedang apa?

Sudah makan?

Bagaimana harimu?

Pertanyaan semacam itu terdengar biasa saja. Bahkan mungkin kita tidak pernah menganggapnya penting ketika masih sering ditanyakan.

Namun ketika pertanyaan itu mulai jarang datang, kita baru menyadari bahwa selama ini ada seseorang yang telah menjadi bagian dari keseharian.

Bukan karena selalu ada percakapan penting. Justru sering kali yang dibicarakan adalah hal-hal sederhana. Cerita tentang apa yang terjadi hari itu, sesuatu yang baru saja dilihat, atau obrolan random yang bermula dari satu hal lalu berakhir entah di mana.

Mungkin memang bukan percakapannya yang kita rindukan.

Melainkan perasaan bahwa ada seseorang yang ingin tahu tentang hari kita.

Ketika Ritme Mulai Berubah

Manusia barangkali tidak pernah benar-benar menyadari betapa mudahnya kita terbiasa dengan kehadiran seseorang.

Sebuah percakapan yang terjadi hampir setiap hari, misalnya, perlahan menciptakan ritmenya sendiri. Tanpa direncanakan, seseorang menjadi bagian dari keseharian. Kita terbiasa bercerita. Terbiasa mendengar. Terbiasa saling mencari.

Sampai suatu ketika ritme itu berubah.

Tidak ada yang benar-benar hilang dalam satu malam. Semuanya masih terlihat baik-baik saja dari luar.

Hanya saja, ada yang tidak lagi sama.

Dan perubahan semacam ini tidak selalu membutuhkan seseorang untuk dipersalahkan.

Setiap hubungan dibentuk oleh aksi dan reaksi. Ada kata-kata yang mungkin tanpa sengaja melukai. Ada sikap yang mungkin disalahpahami. Ada diam yang terlalu lama dibiarkan. Ada pula hal-hal yang tidak pernah sempat dibicarakan.

Jarak yang awalnya hanya beberapa langkah bisa tumbuh semakin panjang tanpa disadari.

Pada akhirnya, mencari siapa yang memulai mungkin tidak lagi terlalu penting.

Sebab ketika jarak sudah terbentuk, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang siapa yang pergi dan siapa yang ditinggalkan.

Melainkan bagaimana seseorang belajar menjalani hari ketika sesuatu yang selama ini terasa biasa, tidak lagi berada di tempat yang sama.

Hati Punya Waktunya Sendiri

Pikiran mungkin lebih cepat memahami perubahan.

Kita tahu bahwa tidak semua orang yang datang akan selalu tinggal. Kita juga tahu bahwa sebuah hubungan tidak mungkin selamanya berada dalam bentuk yang sama.

Tetapi hati sering bekerja dengan kecepatan yang berbeda.

Ada hal-hal yang sudah kita pahami, tetapi belum sepenuhnya bisa kita terima.

Dan mungkin tidak perlu dipaksakan.

Mengikhlaskan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat terlihat baik-baik saja.

Kadang mengikhlaskan hanya berarti berhenti memaksa sesuatu kembali menjadi seperti semula.

Memberi ruang kepada orang lain untuk memilih jalannya.

Dan pada saat yang sama, memberi ruang kepada diri sendiri untuk merasa sedih.

Tidak semua kesedihan harus diumumkan. Tidak semua perasaan membutuhkan penonton. Ada kalanya kita cukup duduk bersama diri sendiri dan mengakui bahwa ada sesuatu yang berubah, dan perubahan itu ternyata tidak mudah.

Tidak apa-apa.

Sebab tidak semua hal harus selesai hari ini.

Ada yang memang perlu dilewati sedikit demi sedikit, sampai suatu saat kita menyadari bahwa ruang yang pernah terasa kosong perlahan telah menemukan bentuknya yang baru.

Untuk hari ini, mungkin cukup mengingat satu hal:

Kita boleh belum baik-baik saja.

Besok hidup akan berjalan lagi.

Dan hati boleh menyusul pelan-pelan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Sabar Menunggu