Hampir Lupa Cara Menulis
Ada masa ketika aku menulis hampir setiap hari.
Bukan karena merasa pandai merangkai kata, tetapi karena ada terlalu banyak hal yang ingin kusimpan.
Menulis adalah caraku memperlambat waktu.
Sebelum sebuah hari benar-benar berlalu, aku sempat menitipkannya pada beberapa paragraf.
Lalu hidup menjadi semakin ramai.
Pekerjaan datang bergantian.
Kamera lebih sering kubawa daripada buku catatan.
Ide-ide bermunculan di kepala, tetapi berhenti sebagai pikiran.
Sebelum sempat menjadi kalimat, mereka sudah tergantikan oleh hal lain.
Pelan-pelan aku berhenti menulis.
Aneh memang.
Kita sering mengira berhenti menulis terjadi karena kehabisan cerita.
Padahal yang lebih sering terjadi justru sebaliknya.
Ceritanya terlalu banyak.
Kepala terlalu penuh.
Hari-hari terlalu cepat.
Sampai akhirnya kita lupa bahwa tidak semua hal harus disimpan di ingatan.
Ada yang memang seharusnya diturunkan menjadi kata-kata.
Beberapa hari terakhir aku membuka kembali blog ini.
Rasanya seperti menemukan rumah lama.
Tidak banyak yang berubah.
Yang berubah justru orang yang kembali membukanya.
Aku tersenyum melihat arsip-arsip lama.
Tulisan tentang fotografi, perjalanan, dan hal-hal yang dulu terasa penting.
Sebagian masih terasa dekat.
Sebagian lain membuatku sadar bahwa cara pandangku ternyata sudah berjalan cukup jauh.
Mungkin memang begitu seharusnya.
Kalau setelah bertahun-tahun tulisan kita masih sama persis, barangkali bukan karena kita konsisten, melainkan karena kita berhenti bertumbuh.
Hari ini aku tidak datang membawa janji akan rajin menulis.
Aku hanya ingin kembali menyediakan ruang.
Ruang untuk berhenti sejenak.
Ruang untuk mengubah hal-hal yang terlalu lama tinggal di kepala menjadi kalimat.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu membutuhkan jawaban.
Kadang kita hanya membutuhkan tempat untuk berpikir dengan lebih pelan.
Dan untuk itu, aku rasa aku akan mulai lagi dari sini.
Komentar
Posting Komentar