Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Kepercayaan

Mula-mula ia hanya sebuah pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Lalu angin keluar masuk membawa nama-nama. Ada yang tinggal. Ada yang membawa pulang kuncinya. Sejak itu pintu masih ada. Yang berubah hanyalah caraku mendengar ketukan 🌿

Orang Asing yang Pernah Akrab

Namamu masih seperti dulu. Aku pun masih mengenal cara suaramu jatuh di ujung kalimat. Yang berubah hanya jarak. Kini kita saling lewat seperti dua musim yang pernah bertemu lalu lupa cara menetap.

Adakah Foto yang Benar-Benar Orisinal?

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu setiap kali aku mengangkat kamera... Adakah foto yang benar-benar orisinal? Pertanyaan ini terdengar sederhana, hampir seperti pertanyaan iseng yang lewat begitu saja. Tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa ia justru menggerogoti dasar dari banyak hal yang kita yakini tentang fotografi. Sebab kalau mau jujur, hampir semua yang kita potret sudah pernah dipotret oleh orang lain. Jalanan. Wajah manusia. Bayangan. Refleksi. Langit sore. Gerak tubuh. Jendela. Kursi. Laut. Pasar. Kesunyian. Keramaian. Semua itu bukan benda baru. Semua itu bukan subjek yang menunggu ditemukan pertama kali oleh kita. Lalu, apa sebenarnya yang masih tersisa untuk disebut baru? Di titik itulah pertanyaan tentang orisinalitas mulai terasa tidak sesederhana slogan. Kita tumbuh dengan gagasan bahwa karya yang baik harus berbeda, harus segar, harus punya identitas yang segera dikenali. Dalam dunia yang bergerak cepat, kebaruan seperti mata uang yang paling dibu...

Garis yang Tak Pernah Cukup

 Aku sudah menarik garis di tempat yang seharusnya. Kujaga langkah agar tak melampaui. Kujaga kata agar tak berubah makna. Kujaga jarak agar semua tetap nyaman. Kukira, selama tubuh tahu batas, hati akan ikut patuh. Ternyata tidak. Ada rindu yang tidak meminta izin untuk tumbuh. Ia hadir justru ketika aku sedang berusaha tidak memikirkannya. Aku tidak pernah memintanya datang. Bahkan berkali-kali berharap ia pulang ke tempat yang semestinya. Namun perasaan tidak mengenal mana yang boleh dan mana yang tidak. Ia hanya tahu ke mana ia selalu ingin pulang. Maka aku tetap menjaga garis itu. Bukan karena rindu telah selesai. Melainkan karena ada ketenangan yang tak boleh kehilangan tempatnya. Dan mungkin, yang paling melelahkan bukanlah menahan langkah. Melainkan setiap hari mengajari hati tentang batas... sementara ia tak pernah benar-benar memahaminya.

Yang Pergi Tidak Selalu Mengurangi Kita

Pagi tadi aku kembali menyusuri pasar di sisi rel kereta Sudah beberapa kali aku datang ke tempat itu, tetapi rasanya selalu ada hal baru yang menunggu untuk ditemukan. Mungkin memang begitu sifat sebuah pasar. Ia tidak pernah benar-benar sama. Pedagangnya bisa saja orang yang sama, lapaknya tetap di tempat yang sama, tetapi cerita yang lahir setiap pagi selalu berbeda. Kamera menggantung di bahuku. Aku tidak sedang mengejar foto tertentu. Pengalaman mengajariku bahwa foto terbaik sering kali muncul ketika aku berhenti memaksakan diri untuk mencarinya. Pasar itu tidak memiliki lorong-lorong yang rapi. Lapak-lapak berdiri mengikuti jalur rel kereta, seolah menyesuaikan diri dengan ruang yang tersisa. Di atas meja kayu sederhana tersusun sayuran yang masih basah. Ikan-ikan segar berjajar di atas bongkahan es. Sesekali aroma daun pisang, bawang merah, dan gorengan hangat berbaur menjadi satu. Bau yang mungkin hanya dimiliki oleh pasar pada pagi hari. Suara tawar-menawar bersahutan dar...

Tidak Harus Selesai Hari Ini

Sore sering kali menjadi waktu yang aneh untuk merasa kehilangan. Hari belum benar-benar berakhir, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa selesai lebih dulu. Mungkin begitulah perubahan dalam sebuah hubungan bekerja. Tidak selalu dimulai dengan pertengkaran besar. Tidak selalu ada ucapan selamat tinggal. Kadang tandanya sangat sederhana... percakapan yang semakin pendek, jeda yang semakin panjang, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang perlahan tidak lagi terdengar. Sedang apa? Sudah makan? Bagaimana harimu? Pertanyaan semacam itu terdengar biasa saja. Bahkan mungkin kita tidak pernah menganggapnya penting ketika masih sering ditanyakan. Namun ketika pertanyaan itu mulai jarang datang, kita baru menyadari bahwa selama ini ada seseorang yang telah menjadi bagian dari keseharian. Bukan karena selalu ada percakapan penting. Justru sering kali yang dibicarakan adalah hal-hal sederhana. Cerita tentang apa yang terjadi hari itu, sesuatu yang baru saja dilihat, atau obrolan random ...

Kehilangan yang Tidak Pernah Diumumkan

Tidak semua kehilangan datang bersama perpisahan. Sebagian hadir melalui percakapan yang semakin jarang. Melalui jeda yang perlahan memanjang. Melalui cerita-cerita kecil yang dulu selalu dibagikan, lalu entah sejak kapan mulai disimpan sendiri. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pintu yang ditutup. Tidak ada kalimat yang benar-benar mengatakan bahwa semuanya telah berubah. Hanya sebuah ritme yang tidak lagi sama. Dulu, kehadiran seseorang bisa menjadi bagian dari keseharian. Bukan karena selalu membicarakan hal penting, melainkan karena ada kebiasaan untuk saling berbagi. Tentang sesuatu yang baru dilihat, kejadian kecil sepanjang hari, atau pikiran yang mungkin tidak berarti bagi siapa pun selain orang yang mendengarnya. Percakapan-percakapan sederhana itu kemudian menjadi semacam rumah. Tempat singgah yang tidak pernah direncanakan, tetapi selalu terasa tersedia. Ketika intensitasnya mulai berkurang, yang terasa hilang bukan hanya pesan atau suara. Ada ruang dalam hari yang mendadak ...

Yang Menari di Pantai Watu Pecak

Gambar
Aku datang ke Pantai Watu Pecak siang itu dengan satu tujuan sederhana: memotret. Merekam Segoro Topeng lewat lensa kamera. Membawa pulang warna, gerakan, ekspresi, dan potongan cerita dari sebuah tradisi yang baru pertama kali kusaksikan. Awalnya, aku mengira yang akan paling kuingat adalah kemegahannya. Dan memang, sulit untuk tidak terpukau. Di hadapanku, ratusan penari memenuhi pasir Watu Pecak. Berbalut warna merah yang menyala, mereka bergerak mengikuti irama yang sama. Tangan terangkat bersamaan, langkah kaki berpindah seirama, seolah setiap orang tahu kapan harus bergerak dan kapan harus memberi ruang. Ada sesuatu yang menggetarkan dari sebuah tarian kolosal. Bukan hanya karena banyaknya manusia yang terlibat, tetapi karena untuk beberapa saat, ratusan individu memilih menjadi bagian dari satu cerita yang sama. Mereka mungkin datang dengan latar belakang berbeda. Dengan kehidupan masing-masing. Dengan cerita masing-masing. Namun hari itu, di tepi laut Watu Pecak, mereka bergera...

Yang Kita Cari Bukan Manusia

Aku pernah menaruh kepercayaan begitu tinggi pada seseorang, sampai nyaris tidak menyisakan ruang baginya untuk keliru. Setiap penilaiannya terasa layak dipercaya. Setiap keputusan yang diambilnya seolah selalu memiliki alasan yang matang. Bahkan ketika orang lain meragukannya, diam-diam aku lebih memilih berdiri di pihaknya. Bukan karena aku benar-benar mengenalnya secara utuh. Mungkin justru karena aku hanya mengenalnya dari bagian-bagian terbaik yang sempat kulihat. Cara berpikirnya. Hal-hal yang pernah dikerjakannya. Keputusan-keputusan yang menurutku tepat. Cara ia membawa dirinya dalam keadaan tertentu. Sedikit demi sedikit, semua itu kususun menjadi gambaran yang terasa lengkap. Tanpa kusadari, kekaguman telah mengubah caraku memandangnya. Aku tidak lagi melihatnya sebagai manusia biasa. Aku mulai melihatnya sebagai ukuran. Lalu suatu hari, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan. Aku kecewa. Bukan hanya karena tindakannya, tetapi karena dalam satu kejadian, bayangan ...