Yang Menari di Pantai Watu Pecak
Aku datang ke Pantai Watu Pecak siang itu dengan satu tujuan sederhana: memotret.
Merekam Segoro Topeng lewat lensa kamera. Membawa pulang warna, gerakan, ekspresi, dan potongan cerita dari sebuah tradisi yang baru pertama kali kusaksikan.
Awalnya, aku mengira yang akan paling kuingat adalah kemegahannya.
Dan memang, sulit untuk tidak terpukau.
Di hadapanku, ratusan penari memenuhi pasir Watu Pecak. Berbalut warna merah yang menyala, mereka bergerak mengikuti irama yang sama. Tangan terangkat bersamaan, langkah kaki berpindah seirama, seolah setiap orang tahu kapan harus bergerak dan kapan harus memberi ruang.
Ada sesuatu yang menggetarkan dari sebuah tarian kolosal.
Bukan hanya karena banyaknya manusia yang terlibat, tetapi karena untuk beberapa saat, ratusan individu memilih menjadi bagian dari satu cerita yang sama.
Mereka mungkin datang dengan latar belakang berbeda. Dengan kehidupan masing-masing. Dengan cerita masing-masing.
Namun hari itu, di tepi laut Watu Pecak, mereka bergerak dalam satu napas.
Aku terus memotret.
Mengejar gerakan. Mengejar momen. Mengejar komposisi yang ingin kusimpan dalam bingkai.
Sampai perlahan aku sadar, ada hal lain yang sebenarnya sedang terjadi di hadapanku.
Segoro Topeng bukan hanya tentang mereka yang sedang menari.
Bukan hanya tentang kostum yang dikenakan, musik yang dimainkan, atau topeng yang menjadi wajah dari pertunjukan.
Di balik semua itu, ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat.
Sebelum seorang anak berdiri di pasir Watu Pecak sebagai bagian dari ratusan penari, ada hari-hari latihan yang mereka lalui.
Ada keluarga yang memberi dukungan.
Ada orang tua yang berdiri di antara kerumunan penonton, melihat anaknya tampil dengan rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya sebuah pertunjukan.
Tetapi bagi mereka, mungkin itu adalah momen ketika anaknya menjadi bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Bagian dari cerita yang sudah dimulai jauh sebelum mereka lahir.
Saat itulah aku merasa, mungkin begitulah sebuah tradisi bertahan.
Bukan semata karena panggung yang kembali dibangun.
Bukan hanya karena musik kembali dimainkan.
Bukan hanya karena topeng kembali dikenakan.
Tetapi karena selalu ada manusia yang memilih untuk meneruskannya.
Karena selalu ada tangan yang bersedia mengenakan topeng yang sama. Selalu ada langkah-langkah baru yang belajar mengikuti gerakan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya.
Tradisi tidak diwariskan dari panggung ke panggung.
Ia diwariskan dari rumah ke rumah.
Dari mereka yang mengenalkan. Dari mereka yang mengajarkan. Dari mereka yang menjaga agar sebuah cerita tidak selesai hanya sampai di generasinya.
Hari itu ombak Watu Pecak datang dan pergi seperti biasanya.
Ketika pertunjukan selesai, pasir yang menjadi panggung perlahan kembali seperti semula. Jejak kaki para penari mungkin akan hilang tersapu angin dan air laut.
Tetapi ada sesuatu yang tetap tinggal.
Rasa bangga.
Ingatan.
Dan cerita yang suatu hari nanti mungkin akan kembali diteruskan.
Aku datang ke Lumajang untuk membawa pulang foto tentang sebuah pertunjukan.
Ternyata, yang kubawa pulang adalah cerita tentang manusia-manusia yang membuat sebuah tradisi tetap hidup.



Komentar
Posting Komentar