Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Tentang Program yang Tidak Boleh Disakralkan

Setiap kali sebuah program dikritik, selalu ada kalimat yang muncul lebih dulu. "Yang penting rakyat terbantu." Lalu kritik terhadap pelaksanaan dipelintir seolah-olah menjadi penolakan terhadap tujuan program itu sendiri. Padahal keduanya tidak pernah sama. Tidak ada yang menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Tidak ada yang keberatan jika negara hadir membantu mereka yang membutuhkan. Yang dipertanyakan adalah sesuatu yang memang harus dipertanyakan. Apakah anggarannya dikelola dengan benar? Apakah pelaksanaannya tepat sasaran? Apakah kualitasnya sesuai dengan yang dijanjikan? Apakah setiap rupiah benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya? Karena program publik bukan sekadar soal niat. Ia adalah amanah yang dibiayai oleh uang rakyat. Maka wajar jika rakyat bertanya. Wajar jika rakyat mengawasi. Wajar jika rakyat mengkritik. Sebab kritik bukanlah upaya menggagalkan sebuah program. Kritik adalah cara memastikan sebuah program tetap bera...

Sabar Menunggu

Gambar
Beberapa foto menarik perhatianku karena cahaya.  Beberapa karena ekspresi orang-orang di dalamnya.  Tapi ada juga foto yang kuambil hanya karena sebuah kalimat. Hari itu, aku berhenti di depan gerobak sederhana.  Di sisinya tertulis dua kata: SABAR MENUNGGU . Aku yakin tulisan itu dibuat untuk pembeli.  Supaya orang yang sedang lapar tidak berkali-kali bertanya, "Sudah belum?" Sederhana. Namun entah mengapa, dalam perjalanan pulang justru aku terus memikirkannya. Belakangan aku merasa, kita sedang hidup di masa yang semakin sulit memberi ruang bagi penantian.  Hampir semua hal bisa didapat dengan cepat. Kita terbiasa menunggu hitungan menit, bukan hitungan hari.  Terbiasa ingin jawaban sekarang juga.  Terbiasa menganggap lambat sebagai sesuatu yang salah. Mungkin tanpa sadar, kebiasaan itu ikut kita bawa ke dalam hidup. Kita ingin persoalan segera selesai.  Ingin usaha segera membuahkan hasil.  Ingin doa segera dijawab.  Ketika se...

Suatu Hari Nanti

 Ada kalanya hidup terasa seperti ruang tunggu. Bukan karena tidak ada yang terjadi.  Justru banyak sekali yang sedang berlangsung.  Kita bekerja, bertemu orang-orang baru, kehilangan beberapa hal, menemukan hal-hal lain.  Hari berganti tanpa banyak jeda. Tetapi di dalam diri, ada sesuatu yang seolah masih menunggu. Menunggu sebuah jawaban. Menunggu keadaan membaik. Menunggu seseorang berubah. Atau sekadar menunggu hati benar-benar bisa menerima apa yang sudah terjadi. Dulu aku berpikir semua penantian harus diakhiri secepat mungkin.  Aku ingin segala sesuatu jelas.  Jika ada masalah, harus segera selesai.  Jika kehilangan, harus segera tergantikan.  Jika ada luka, harus segera sembuh. Belakangan aku sadar, hidup tidak pernah terburu-buru hanya karena kita menginginkannya. Ada pertanyaan yang baru terjawab bertahun-tahun kemudian. Ada pertemuan yang baru terasa maknanya setelah semuanya usai. Ada kegagalan yang ternyata sedang membuka j...

Warisan

Yang berganti adalah rezimnya. Yang tetap tinggal seringkali persoalannya. Aku lahir, tumbuh, dan kini hampir lima puluh tahun hidup di negeri ini. Cukup lama untuk menyaksikan lebih dari satu rezim datang dengan harapan, lalu pergi sambil meninggalkan pekerjaan rumah bagi rezim berikutnya. Setiap pergantian membawa janji baru. Setiap pidato menjanjikan perubahan. Setiap awal pemerintahan selalu dimulai dengan keyakinan bahwa kali ini akan berbeda. Dan memang, banyak hal berubah. Jalan bertambah panjang. Gedung semakin tinggi. Teknologi membuat dunia terasa lebih dekat. Tetapi mengapa ada persoalan yang seolah menolak menjadi masa lalu? Korupsi berganti wajah. Ketimpangan berganti bentuk. Bencana datang dengan penyebab yang terus diperdebatkan, sementara korbannya hampir selalu orang-orang yang sama. Barangkali masalah terbesar negeri ini bukan karena kita kekurangan orang yang mampu membangun. Melainkan karena terlalu banyak persoalan yang hanya dipindahkan, bukan diselesaikan. Dari s...

Kamu Tidak Bisa Kembali ke Sini

Aku baru sadar, ternyata rindu sering membuat kita salah mengerti tentang pulang. Kalau suatu hari aku merindukan sesuatu, kupikir yang perlu kulakukan hanyalah datang lagi ke tempat itu. Kembali ke jalan yang dulu sering kulewati. Ke sudut-sudut yang pernah menjadi saksi begitu banyak cerita. Ke tempat-tempat yang pernah menyimpan sebagian diriku. Tempat-tempat yang diam-diam ikut membentuk siapa aku hari ini. Kupikir, selama tempat itu masih ada, mungkin perasaan yang dulu juga masih menunggu di sana. Ternyata tidak. Suatu hari aku benar-benar kembali. Tidak banyak yang berubah. Jalannya masih sama. Bangunannya masih berdiri. Bahkan beberapa sudut masih terlihat begitu akrab. Namun anehnya, ada sesuatu yang terasa hilang. Bukan karena tempat itu berubah. Melainkan karena aku yang sudah tidak lagi sama. Saat itulah aku mulai memahami bahwa yang selama ini kurindukan ternyata bukan tempatnya. Aku sedang merindukan diriku yang pernah hidup di sana. Diriku yang masih memandang hidup deng...

Hampir Lupa Cara Menulis

 Ada masa ketika aku menulis hampir setiap hari. Bukan karena merasa pandai merangkai kata, tetapi karena ada terlalu banyak hal yang ingin kusimpan.  Menulis adalah caraku memperlambat waktu.  Sebelum sebuah hari benar-benar berlalu, aku sempat menitipkannya pada beberapa paragraf. Lalu hidup menjadi semakin ramai. Pekerjaan datang bergantian.  Kamera lebih sering kubawa daripada buku catatan.  Ide-ide bermunculan di kepala, tetapi berhenti sebagai pikiran.  Sebelum sempat menjadi kalimat, mereka sudah tergantikan oleh hal lain. Pelan-pelan aku berhenti menulis. Aneh memang.  Kita sering mengira berhenti menulis terjadi karena kehabisan cerita.  Padahal yang lebih sering terjadi justru sebaliknya. Ceritanya terlalu banyak. Kepala terlalu penuh. Hari-hari terlalu cepat. Sampai akhirnya kita lupa bahwa tidak semua hal harus disimpan di ingatan.  Ada yang memang seharusnya diturunkan menjadi kata-kata. Beberapa hari terakhir aku membu...