Kamu Tidak Bisa Kembali ke Sini

Aku baru sadar, ternyata rindu sering membuat kita salah mengerti tentang pulang.

Kalau suatu hari aku merindukan sesuatu, kupikir yang perlu kulakukan hanyalah datang lagi ke tempat itu.

Kembali ke jalan yang dulu sering kulewati.

Ke sudut-sudut yang pernah menjadi saksi begitu banyak cerita.

Ke tempat-tempat yang pernah menyimpan sebagian diriku.

Tempat-tempat yang diam-diam ikut membentuk siapa aku hari ini.

Kupikir, selama tempat itu masih ada, mungkin perasaan yang dulu juga masih menunggu di sana.

Ternyata tidak.


Suatu hari aku benar-benar kembali.

Tidak banyak yang berubah. Jalannya masih sama. Bangunannya masih berdiri. Bahkan beberapa sudut masih terlihat begitu akrab.

Namun anehnya, ada sesuatu yang terasa hilang.

Bukan karena tempat itu berubah.

Melainkan karena aku yang sudah tidak lagi sama.


Saat itulah aku mulai memahami bahwa yang selama ini kurindukan ternyata bukan tempatnya.


Aku sedang merindukan diriku yang pernah hidup di sana.

Diriku yang masih memandang hidup dengan cara yang berbeda.

Yang masih menganggap waktu berjalan pelan.

Yang belum mengenal beberapa kehilangan.

Yang belum menyadari bahwa hidup diam-diam mengubah kita, sedikit demi sedikit.


Barangkali itulah mengapa kita sering kecewa ketika mencoba mengulang masa lalu.

Kita berharap menemukan perasaan yang sama, padahal perasaan tidak pernah tinggal di sebuah tempat.

Ia tinggal pada versi diri kita yang pernah hadir di sana.

Dan versi itu tidak pernah benar-benar bisa dikunjungi lagi.


Semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa waktu tidak mengambil tempat-tempat yang pernah kita cintai.

Ia hanya membuat kita bertumbuh.

Lalu suatu hari mempertemukan kita kembali dengan tempat yang sama, sebagai orang yang berbeda.


Mungkin karena itu, tidak semua rindu meminta kita untuk kembali.

Sebagian rindu hanya ingin diingat.

Sebagian lagi hanya ingin kita mengucapkan terima kasih.


Terima kasih kepada tempat-tempat yang pernah memberi ruang untuk bertumbuh.

Terima kasih kepada waktu yang, meski tidak bisa diulang, telah membentuk kita menjadi diri yang sekarang.


Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mencari jalan pulang menuju masa lalu.

Melainkan belajar menerima bahwa ada tempat-tempat yang akan selalu kita cintai.


Bukan karena kita masih bisa kembali ke sana.

Melainkan karena kita pernah menjadi seseorang di sana.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Enam Tahun JEDA, dan MULAI LAGI