Sabar Menunggu

Beberapa foto menarik perhatianku karena cahaya. 

Beberapa karena ekspresi orang-orang di dalamnya. 

Tapi ada juga foto yang kuambil hanya karena sebuah kalimat.


Hari itu, aku berhenti di depan gerobak sederhana. 

Di sisinya tertulis dua kata: SABAR MENUNGGU.



Aku yakin tulisan itu dibuat untuk pembeli. 

Supaya orang yang sedang lapar tidak berkali-kali bertanya, "Sudah belum?"

Sederhana.

Namun entah mengapa, dalam perjalanan pulang justru aku terus memikirkannya.


Belakangan aku merasa, kita sedang hidup di masa yang semakin sulit memberi ruang bagi penantian.

 Hampir semua hal bisa didapat dengan cepat.

Kita terbiasa menunggu hitungan menit, bukan hitungan hari. 

Terbiasa ingin jawaban sekarang juga. 

Terbiasa menganggap lambat sebagai sesuatu yang salah.

Mungkin tanpa sadar, kebiasaan itu ikut kita bawa ke dalam hidup.


Kita ingin persoalan segera selesai. 

Ingin usaha segera membuahkan hasil. 

Ingin doa segera dijawab. 

Ketika semua itu tidak terjadi, yang lebih dulu habis sering kali bukan harapan, melainkan kesabaran.


Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, banyak hal yang paling berharga dalam hidup justru tidak pernah datang dengan tergesa-gesa.

Kepercayaan membutuhkan waktu.

Luka membutuhkan waktu.

Hubungan membutuhkan waktu.

Bahkan menjadi pribadi yang lebih dewasa pun tidak pernah selesai dalam semalam.


Mungkin karena itu aku tersentuh oleh tulisan di gerobak tadi. 

Ia tidak sedang mengajariku sesuatu yang baru. 

Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sebenarnya sudah sering kulupakan.

Bahwa tidak semua keterlambatan adalah penolakan.

Tidak semua diam berarti tidak ada yang sedang dikerjakan.


Ada kalanya hidup memang meminta kita menunggu. 

Bukan untuk menguji seberapa kuat kita bertahan, melainkan untuk memberi kesempatan agar kita bertumbuh sebelum menerima apa yang sedang kita minta.


Saat akhirnya aku melangkah pergi, gerobak itu tetap di tempatnya. 

Tulisan itu pun masih akan dibaca oleh orang-orang berikutnya, mungkin hanya sepintas lalu.


Sedangkan aku, justru membawanya pulang.

Karena hari itu aku tidak hanya menemukan sebuah foto.

Aku menemukan sesuatu yang perlu lebih sering kuingat.

Sabar menunggu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Enam Tahun JEDA, dan MULAI LAGI