Yang Kita Cari Bukan Manusia

Aku pernah menaruh kepercayaan begitu tinggi pada seseorang, sampai nyaris tidak menyisakan ruang baginya untuk keliru.

Setiap penilaiannya terasa layak dipercaya. Setiap keputusan yang diambilnya seolah selalu memiliki alasan yang matang. Bahkan ketika orang lain meragukannya, diam-diam aku lebih memilih berdiri di pihaknya.

Bukan karena aku benar-benar mengenalnya secara utuh.

Mungkin justru karena aku hanya mengenalnya dari bagian-bagian terbaik yang sempat kulihat.

Cara berpikirnya. Hal-hal yang pernah dikerjakannya. Keputusan-keputusan yang menurutku tepat. Cara ia membawa dirinya dalam keadaan tertentu. Sedikit demi sedikit, semua itu kususun menjadi gambaran yang terasa lengkap.

Tanpa kusadari, kekaguman telah mengubah caraku memandangnya.

Aku tidak lagi melihatnya sebagai manusia biasa.

Aku mulai melihatnya sebagai ukuran.

Lalu suatu hari, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Aku kecewa.

Bukan hanya karena tindakannya, tetapi karena dalam satu kejadian, bayangan yang selama ini kubangun tentang dirinya runtuh begitu saja.

Aku sempat merasa tertipu. Merasa telah salah menaruh kepercayaan. Merasa bahwa seseorang yang selama ini kuanggap matang ternyata tidak sebaik yang kubayangkan.

Pikiran pertama yang muncul begitu sederhana:

Ia berubah.

Namun setelah kemarahan dan kekecewaan itu sedikit mereda, muncul pertanyaan lain yang jauh lebih tidak nyaman.

Benarkah ia yang berubah?

Atau selama ini aku memang tidak pernah benar-benar mengenalnya?

Barangkali yang runtuh hari itu bukan dirinya.

Yang runtuh adalah bayangan yang kubangun sendiri tentang siapa dirinya.


Kita mengenal manusia melalui potongan-potongan.

Satu percakapan.

Beberapa keputusan.

Cara ia memperlakukan kita.

Karya-karyanya.

Pendapat-pendapatnya.

Cerita yang disampaikan orang lain tentang dirinya.

Dari potongan-potongan kecil itu, kita menyusun gambaran besar. Bagian yang tidak kita ketahui sering kali kita lengkapi sendiri. Kita menghubungkan titik-titik yang sebenarnya belum tentu berhubungan.

Karena seseorang tampak bijaksana dalam satu perkara, kita menganggap ia pasti bijaksana dalam semua perkara.

Karena ia berhasil dalam pekerjaannya, kita percaya ia juga akan selalu tepat dalam mengambil keputusan hidup.

Karena ia pernah membela sesuatu yang kita anggap benar, kita yakin ia akan selalu berdiri di tempat yang sama.

Karena ia sering menang, kita mengira ia pasti tahu bagaimana segala sesuatu seharusnya dilakukan.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sering disebut halo effect. Satu kualitas yang menonjol membuat kita tanpa sadar menambahkan kualitas-kualitas lain yang belum tentu benar-benar dimiliki seseorang.

Kita tidak sekadar melihat apa yang ada.

Kita menambahkan apa yang ingin kita lihat.

Mungkin karena manusia terlalu rumit untuk dipahami seluruhnya. Sementara pikiran kita menyukai sesuatu yang sederhana, rapi, dan mudah diberi nama.

Bijaksana.

Ceroboh.

Baik.

Buruk.

Pahlawan.

Pecundang.

Dengan label, dunia terasa lebih mudah ditata. Kita tidak perlu berlama-lama menghadapi kenyataan bahwa seseorang bisa sangat baik dalam satu hal, tetapi mengecewakan dalam hal lain.

Bahwa orang yang pernah membuat keputusan luar biasa juga dapat mengambil keputusan yang buruk.

Bahwa seseorang bisa tulus, tetapi tetap melukai.

Bahwa orang yang selama ini kita kagumi mungkin memiliki sisi yang tidak pernah kita kenal.

Masalahnya, manusia tidak hidup dalam satu warna.

Kita semua bergerak di antara banyak kemungkinan.

Hari ini seseorang bisa menjadi tempat kita belajar. Besok ia bisa melakukan sesuatu yang membuat kita mempertanyakan seluruh penilaian kita tentang dirinya.

Bukan karena seluruh kebaikannya palsu.

Bukan pula karena kesalahannya tidak penting.

Melainkan karena manusia memang tidak pernah sesederhana kesimpulan yang kita buat tentangnya.


Aku kemudian menyadari bahwa yang kulakukan sebenarnya bukan hal baru.

Sejak lama manusia punya kebiasaan menciptakan sosok yang lebih besar daripada kehidupan biasa.

Sejarah dipenuhi oleh raja-raja yang dipercaya dipilih oleh langit, pahlawan yang kisahnya dibersihkan dari kelemahan, dan tokoh besar yang sisi manusianya perlahan disingkirkan agar lebih mudah dijadikan teladan.

Kita menyukai cerita yang jelas.

Kita menyukai pahlawan yang tidak ragu.

Pemimpin yang selalu tahu arah.

Tokoh yang selalu memilih jalan yang benar.

Keraguan, ketakutan, dan kekeliruan sering kali dihapus dari cerita. Bukan karena hal-hal itu tidak pernah ada, tetapi karena kita lebih nyaman mengagumi seseorang yang telah dipisahkan dari sisi manusianya.

Dulu kita membangun patung.

Hari ini kita membangun citra.

Bentuknya berubah, tetapi cara kerjanya hampir sama.

Kita mengangkat seseorang melalui kemenangan, karya, jabatan, pengetahuan, atau pengaruhnya. Kita mendengarkan ucapannya. Mengikuti pikirannya. Mengutip kalimatnya. Menjadikannya ukuran.

Sedikit demi sedikit, kita meninggikannya.

Masalahnya, semakin tinggi seseorang kita tempatkan, semakin sedikit ruang yang kita sisakan baginya untuk menjadi manusia.

Kita ingin ia selalu benar.

Selalu tenang.

Selalu matang.

Selalu menjadi versi terbaik dari dirinya.

Ketika ia gagal memenuhi semua itu, kita merasa dikhianati.

Padahal mungkin ia tidak pernah menjanjikan kesempurnaan.

Kitalah yang diam-diam menuliskan janji itu atas namanya.

Kita menaruh harapan yang begitu berat di pundaknya, lalu marah ketika ia tidak sanggup memikulnya.

Aku pun pernah melakukan itu.

Bukan karena ia memintaku menganggapnya sempurna.

Akulah yang memilih melihatnya seperti itu.


Mungkin karena itulah kesalahan seseorang yang kita kagumi terasa lebih menyakitkan daripada kesalahan orang lain.

Yang hancur bukan hanya kepercayaan terhadap dirinya.

Ada bagian dalam diri kita yang ikut kehilangan sesuatu.

Pegangan.

Ukuran.

Keyakinan bahwa setidaknya masih ada satu orang yang dapat dipercaya tanpa keraguan.

Kita kemudian berkata,

“Aku tidak menyangka dia seperti itu.”

Kalimat itu terdengar seperti sedang menjelaskan dirinya.

Padahal sebenarnya, kalimat tersebut lebih banyak berbicara tentang bayangan kita sendiri.

Kita tidak menyangka karena selama ini kita menyisakan terlalu sedikit kemungkinan baginya untuk menjadi berbeda dari apa yang kita pikirkan.

Kekecewaan lahir dari jarak antara kenyataan dan harapan. Semakin tinggi harapan itu dibangun, semakin keras bunyi keruntuhannya.

Lalu karena sakit menerima bahwa gambaran kita ternyata tidak utuh, kita memilih kesimpulan yang lebih mudah.

Ia berubah.

Ia tidak seperti yang kita kira.

Ia telah mengecewakan kita.

Mungkin semuanya benar.

Namun mungkin juga ada kebenaran lain yang lebih sulit diterima:

Sejak awal, kita hanya mengenal sebagian kecil dari dirinya.

Mengakui keterbatasan itu ternyata tidak mudah. Ada sedikit rasa malu di dalamnya. Kita harus menerima bahwa penilaian kita tidak selengkap yang kita bayangkan.

Kita merasa memahami seseorang, padahal mungkin kita hanya memahami bagian yang sempat ia tunjukkan.

Atau bagian yang ingin kita percaya.


Ada alasan lain mengapa satu kesalahan terasa begitu besar.

Pikiran manusia memang lebih mudah menangkap hal buruk. Satu penghinaan bisa tinggal lebih lama daripada banyak pujian. Satu kegagalan dapat terasa lebih berat daripada sederet keberhasilan. Satu tindakan mengecewakan bisa menutupi puluhan kebaikan yang pernah dilakukan seseorang.

Kita lebih mudah mengingat luka daripada hari-hari ketika semuanya berjalan baik.

Barangkali karena hal buruk terasa seperti ancaman. Ia menuntut perhatian. Ia membuat kita berjaga-jaga agar tidak terluka untuk kedua kalinya.

Namun sesuatu yang berguna untuk melindungi diri juga dapat membuat penilaian kita menjadi tidak adil.

Apa yang paling melekat dalam ingatan belum tentu merupakan gambaran paling utuh tentang seseorang.

Satu kesalahan mungkin memang penting.

Namun penting tidak selalu berarti cukup untuk menjelaskan seluruh manusia.

Sayangnya, kita hidup di zaman yang membuat kesalahan jauh lebih mudah diingat.

Dulu, manusia memiliki ingatan yang terbatas.

Hari ini kita menciptakan mesin yang tidak pernah lupa.

Satu kalimat dapat tinggal dalam tangkapan layar.

Satu keputusan dapat dipotong menjadi video singkat.

Satu kekeliruan bisa dipanggil kembali bertahun-tahun kemudian, bahkan ketika orang yang melakukannya mungkin sudah berubah.

Kesalahan tidak lagi sekadar terjadi.

Ia direkam.

Disimpan.

Dibagikan.

Diulang.

Diberi judul.

Kadang dipisahkan dari konteksnya.

Lalu perlahan, sebuah peristiwa berubah menjadi identitas.

Kita berhenti berkata,

“Ia pernah melakukan kesalahan.”

Kita mulai berkata,

“Ia memang seperti itu.”

Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi akibatnya sangat besar.

Kalimat pertama masih menyisakan ruang bagi waktu. Ia mengakui bahwa manusia dapat belajar, menyesal, memperbaiki diri, atau menjadi seseorang yang berbeda.

Kalimat kedua menutup seluruh kemungkinan itu.

Seseorang dikunci di dalam satu peristiwa.

Kita mengambil satu halaman dari hidupnya, lalu menganggap telah membaca seluruh buku.

Padahal tidak ada seorang pun yang ingin dikenang hanya dari hari terburuknya.

Aku juga tidak.

Mungkin kamu pun tidak.

Kita ingin orang lain memahami bahwa hidup kita lebih panjang daripada satu kalimat yang terucap saat marah. Lebih luas daripada satu keputusan yang terburu-buru. Lebih rumit daripada satu tindakan yang kemudian kita sesali.

Kita mengharapkan keluasan hati itu dari orang lain.

Namun tidak selalu mudah memberikannya kepada mereka.


Tentu saja, tidak semua kesalahan bisa diselesaikan dengan kalimat, “Namanya juga manusia.”

Ada tindakan yang melukai.

Ada kebohongan yang disengaja.

Ada penyalahgunaan kekuasaan.

Ada keputusan yang merugikan banyak orang.

Ada kesalahan yang harus dibayar dengan konsekuensi.

Menjadi manusia bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Kritik tetap penting.

Pertanggungjawaban tetap harus diminta.

Permintaan maaf tidak selalu cukup. Penyesalan juga tidak selalu dapat memulihkan apa yang telah rusak.

Namun meminta pertanggungjawaban berbeda dengan menghapus seluruh kemanusiaan seseorang.

Kita dapat menyebut sebuah tindakan salah tanpa merasa telah memahami seluruh diri orang yang melakukannya.

Kita dapat kehilangan kepercayaan tanpa harus mengubah seseorang menjadi hanya satu kesalahan.

Kita bisa menjaga jarak.

Kita bisa berhenti mengagumi.

Kita bahkan bisa memutuskan untuk tidak lagi berjalan bersamanya.

Tetapi semua itu tidak harus membuat kita lupa bahwa manusia selalu lebih rumit daripada satu label.

Batasnya memang tidak selalu mudah.

Kadang kita khawatir bahwa memberi ruang bagi kemanusiaan berarti memaklumi perbuatan yang salah.

Padahal keduanya tidak harus saling meniadakan.

Kita bisa tegas terhadap tindakan, sambil tetap rendah hati terhadap keterbatasan pengetahuan kita tentang seseorang.

Kita bisa mengatakan, “Ini salah,” tanpa merasa berhak menyimpulkan, “Inilah seluruh dirinya.”


Semakin kupikirkan, semakin aku melihat paradoks yang aneh.

Kita mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses.

Kita berkata bahwa manusia harus berani mencoba.

Kita memuji orang-orang yang pernah jatuh lalu bangkit.

Kita mengulang nasihat bahwa kesalahan adalah guru terbaik.

Namun ketika seseorang benar-benar melakukan kesalahan, kita sering tidak memberinya ruang untuk belajar.

Kita menyukai kisah tentang kegagalan setelah kita mengetahui akhirnya adalah keberhasilan.

Kegagalan yang masih berlangsung tidak terlihat seindah itu.

Kita ingin inovasi, tetapi tidak sabar menghadapi percobaan yang gagal.

Kita ingin pemimpin yang berani mengambil keputusan, tetapi juga menuntut agar setiap keputusannya selalu tepat.

Kita ingin seniman terus bereksperimen, tetapi segera menghakimi ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Kita ingin manusia berkembang, tetapi terus mengikatnya pada versi lama yang pernah mengecewakan kita.

Dalam dunia seperti itu, orang tidak belajar menjadi lebih jujur.

Mereka belajar menyembunyikan kesalahan.

Tidak belajar bertanggung jawab.

Mereka belajar menjaga citra.

Tuntutan kesempurnaan akhirnya tidak selalu menghasilkan manusia yang lebih baik. Kadang ia hanya menghasilkan manusia yang semakin pandai terlihat baik.


Awalnya aku mengira persoalan ini hanya menyangkut tokoh besar, pemenang, pemimpin, atau orang-orang yang hidupnya diperhatikan banyak orang.

Ternyata tidak.

Ia hadir dalam hubungan yang paling dekat.

Kita membangun bayangan tentang orang tua yang seharusnya selalu tahu jalan terbaik.

Tentang sahabat yang seharusnya selalu memahami.

Tentang pasangan yang seharusnya tidak pernah mengecewakan.

Tentang anak yang seharusnya tumbuh sesuai harapan.

Tentang guru yang seharusnya selalu menjadi teladan.

Tentang teman yang seharusnya tetap menjadi orang yang sama seperti saat pertama kali kita mengenalnya.

Lalu kita terluka ketika mereka ternyata memiliki keterbatasan.

Kadang luka itu memang lahir dari janji yang dilanggar atau kepercayaan yang dirusak.

Namun kadang, sebagian luka juga datang dari harapan yang tidak pernah benar-benar kita ucapkan.

Kita berharap seseorang memahami isi kepala kita tanpa pernah dijelaskan.

Kita berharap ia selalu bertindak sesuai nilai yang kita anggap benar.

Kita berharap ia berubah, tetapi hanya ke arah yang kita setujui.

Kita berharap ia tetap sama, terutama pada bagian-bagian yang membuat kita nyaman.

Kita mengira sedang mencintai manusia.

Padahal terkadang, yang kita cintai adalah gambaran kita tentang dirinya.

Ketika kenyataan tidak lagi sesuai dengan gambaran itu, kita merasa kehilangan seseorang.

Padahal mungkin yang hilang bukan orangnya.

Yang hilang adalah versi dirinya yang selama ini hidup di kepala kita.


Menulis semua ini membuatku malu.

Sebab aku tahu aku pernah menjadi orang yang terlalu cepat menyimpulkan.

Aku pernah merasa sudah memahami seseorang hanya karena melihat beberapa bagian dari hidupnya.

Pernah meletakkan seseorang terlalu tinggi, lalu marah ketika ia jatuh.

Pernah mengira kekagumanku adalah bukti bahwa aku mengenalnya.

Pernah merasa dikhianati oleh harapan yang sebenarnya kususun sendiri.

Setelah menyadari semua ini, aku ingin mengatakan bahwa aku tidak akan pernah melakukannya lagi.

Namun mungkin itu juga bentuk kesombongan yang lain.

Barangkali suatu hari aku masih akan terlalu cepat kecewa.

Masih akan membangun bayangan tentang orang lain.

Masih akan mengisi bagian-bagian yang tidak kuketahui dengan dugaanku sendiri.

Masih akan lupa bahwa kekaguman dapat membuat pandangan kita kehilangan jarak.

Kesadaran tidak selalu membuat manusia berubah dalam satu malam.

Aku pun tidak.

Mungkin kesadaran hanya memberi jeda kecil sebelum kita mengulangi kebiasaan lama.

Satu tarikan napas sebelum memberi label.

Satu pertanyaan sebelum menyimpulkan.

Satu kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah aku sedang melihat dirinya?

Atau aku sedang mempertahankan bayanganku tentang siapa seharusnya dia?


Aku masih kecewa kepada orang itu.

Memahami semua ini tidak serta-merta menghapus apa yang telah terjadi. Tidak mengembalikan kepercayaan ke tempat semula. Tidak membuat tindakannya menjadi benar.

Kesadaran ini juga tidak memaksaku untuk kembali mengaguminya seperti dahulu.

Ada hal-hal yang memang mengubah cara kita memandang seseorang.

Ada retak yang tidak harus diperbaiki menjadi bentuk semula.

Namun sekarang aku melihat kekecewaan itu dengan cara yang sedikit berbeda.

Aku tidak lagi hanya bertanya mengapa ia bisa melakukan kesalahan.

Aku juga bertanya mengapa sejak awal aku percaya bahwa ia tidak mungkin melakukannya.

Mungkin ia memang keliru.

Namun aku pun keliru ketika menempatkannya begitu tinggi sampai tidak lagi menyisakan ruang baginya untuk menjadi manusia.

Padahal ia tidak pernah meminta itu.

Akulah yang memberikannya.


Semakin lama kupikirkan, semakin aku merasa persoalannya bukan karena manusia terlalu sering mengecewakan.

Kita kecewa karena menuntut sesuatu yang bahkan tidak sanggup kita penuhi sendiri.

Kita ingin orang lain konsisten, sementara kita pun berubah.

Kita ingin mereka selalu bijaksana, sementara kita juga pernah mengambil keputusan saat marah, takut, lelah, atau tidak tahu harus berbuat apa.

Kita ingin mereka tidak pernah salah, sementara sebagian hidup kita dibentuk oleh kesalahan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Kita ingin manusia.

Tetapi tanpa kelemahan.

Tanpa keraguan.

Tanpa kontradiksi.

Tanpa kemungkinan untuk mengecewakan.

Dengan kata lain, yang kita cari sebenarnya bukan manusia.

Kita mencari citra.

Simbol.

Patung yang dapat dikagumi tanpa risiko terluka.

Sesuatu yang selalu benar dan tidak pernah berubah.

Masalahnya, makhluk seperti itu tidak pernah hidup.

Yang ada hanyalah manusia.

Manusia yang dapat bersikap bijaksana hari ini, lalu ceroboh esok pagi.

Yang dapat mencintai seseorang dan tetap melukainya.

Yang bisa melakukan banyak kebaikan, lalu mengambil satu keputusan buruk.

Yang bisa belajar.

Menyesal.

Berubah.

Atau terkadang mengulangi kesalahan yang sama.

Manusia bahkan tidak selalu mudah dipahami oleh dirinya sendiri.

Mungkin kerendahan hati dimulai dari kesediaan menerima kenyataan itu.

Bahwa pengetahuan kita tentang seseorang selalu terbatas.

Bahwa kekaguman bukan bukti bahwa kita mengenalnya secara utuh.

Bahwa kekecewaan tidak selalu berarti kita telah dibohongi.

Dan bahwa satu kesalahan, betapapun pentingnya, belum tentu cukup untuk menjelaskan seluruh hidup seseorang.

Aku tidak tahu apakah setelah ini aku akan lebih pandai memahami manusia.

Namun setidaknya, aku ingin belajar mengagumi tanpa meninggikan.

Memercayai tanpa menganggap seseorang tidak mungkin keliru.

Menghargai tanpa mengubah manusia menjadi ukuran yang tidak manusiawi.

Sebab mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya cara kita memperlakukan seseorang setelah ia melakukan kesalahan.

Mungkin kita juga perlu belajar memperlakukan manusia sebagai manusia, bahkan sebelum kesalahan itu terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Enam Tahun JEDA, dan MULAI LAGI