Adakah Foto yang Benar-Benar Orisinal?
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu setiap kali aku mengangkat kamera...
Adakah foto yang benar-benar orisinal?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, hampir seperti pertanyaan iseng yang lewat begitu saja. Tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa ia justru menggerogoti dasar dari banyak hal yang kita yakini tentang fotografi.
Sebab kalau mau jujur, hampir semua yang kita potret sudah pernah dipotret oleh orang lain.
Jalanan. Wajah manusia. Bayangan. Refleksi. Langit sore. Gerak tubuh. Jendela. Kursi. Laut. Pasar. Kesunyian. Keramaian. Semua itu bukan benda baru. Semua itu bukan subjek yang menunggu ditemukan pertama kali oleh kita.
Lalu, apa sebenarnya yang masih tersisa untuk disebut baru?
Di titik itulah pertanyaan tentang orisinalitas mulai terasa tidak sesederhana slogan. Kita tumbuh dengan gagasan bahwa karya yang baik harus berbeda, harus segar, harus punya identitas yang segera dikenali. Dalam dunia yang bergerak cepat, kebaruan seperti mata uang yang paling diburu. Yang lama dianggap biasa. Yang mirip dianggap lemah. Yang terlalu mengingatkan pada karya lain segera dicurigai sebagai tiruan.
Tetapi apakah kreativitas memang bekerja seperti itu?
Apakah manusia benar-benar mencipta dari ruang kosong?
-----------------
Manusia tampaknya memang punya hubungan yang agak gelisah dengan kebaruan. Kita ingin menjadi yang pertama. Kita ingin menemukan sesuatu yang belum pernah ada. Kita ingin memiliki suara yang terdengar berbeda dari suara orang lain. Dalam seni, itu tampak seperti dorongan mulia. Dalam praktiknya, dorongan itu sering berubah menjadi beban.
Sebab ketika yang baru dijadikan ukuran utama, kita mulai memandang pengulangan sebagai kegagalan.
Padahal pengulangan justru bagian dari cara manusia belajar. Kita mengulang kata-kata sebelum mampu menyusun kalimat sendiri. Kita meniru gerak sebelum menemukan ritme tubuh kita sendiri. Kita mengamati, menyerap, menirukan, lalu pelan-pelan mengolahnya menjadi sesuatu yang terasa akrab namun tetap pribadi.
Fotografi tidak kebal dari proses itu.
Bahkan mungkin fotografi justru sangat jelas memperlihatkannya.
Karena dalam fotografi, pengulangan tidak pernah benar-benar hilang. Setiap hari kita melihat matahari terbit. Setiap hari ada langit. Setiap hari ada manusia berjalan. Setiap hari ada cahaya jatuh ke permukaan yang berbeda. Dan hampir semua momen itu telah berkali-kali dipotret, baik oleh orang yang kita kenal maupun oleh orang yang tak pernah kita temui.
Jadi ketika seorang fotografer mengangkat kamera lalu membidik sebuah adegan yang tampaknya biasa, yang sedang terjadi bukanlah penciptaan dunia baru. Yang terjadi adalah pertemuan ulang dengan dunia yang sama, tetapi melalui kesadaran yang berbeda.
Di situ letak kegelisahannya.
Karena kalau subjeknya sama, apa yang membedakan satu foto dari foto lain?
Apa yang sebenarnya diciptakan seorang fotografer?
Kalimat ini penting karena kita tidak sedang membahas semua fotografi dengan cara yang seragam. Ada fotografer dokumenter, street photographer, fotografer konseptual, fashion photographer, fotografer still life, fotografer produk, foto jurnalistik, dan banyak bentuk lain yang masing-masing memiliki logikanya sendiri.
Maka, terlalu sederhana kalau kita bilang fotografer tidak menciptakan apa-apa.
Itu tidak adil.
Seorang fotografer konseptual memang bisa membangun adegan. Ia bisa mengatur cahaya, menyusun properti, menempatkan model, memilih warna, bahkan menciptakan dunia visual yang sebelumnya belum ada di depan kamera. Dalam pengertian tertentu, ia memang mencipta.
Tetapi yang ia ciptakan bukan realitas dari ketiadaan.
Yang ia ciptakan adalah situasi.
Ia menyusun hubungan antara benda, tubuh, ruang, dan cahaya. Ia mengarahkan kemungkinan agar sebuah makna lahir dari pertemuan berbagai unsur yang sebelumnya terpisah. Bahkan ketika ia tampak menciptakan dunia, ia tetap bekerja dengan bahan yang sudah ada... yaitu meja, kain, tubuh manusia, ruangan, cahaya, bayangan, warna, tekstur, gestur.
Ia tidak menciptakan matahari.
Ia mengatur bagaimana matahari dibaca.
Ia tidak menciptakan kursi.
Ia memilih di mana kursi itu ditempatkan.
Ia tidak menciptakan manusia.
Ia menata bagaimana tubuh manusia hadir dalam bingkai.
Di titik ini, fotografi tampak seperti seni menyusun, bukan seni mencipta dari kehampaan.
Namun justru di sana keindahannya mulai muncul.
Karena kalau fotografi bukan soal menciptakan objek baru, mungkin fotografi adalah soal memberi susunan baru pada apa yang sudah ada.
Dan susunan baru itu bukan perkara kecil.
---------------------
Sebelum menjadi fotografer, kita lebih dulu menjadi penonton.
Kita melihat gambar. Kita melihat film. Kita melihat karya orang lain. Kita menyerap cara mereka menyusun cahaya, menahan momen, membingkai tubuh, memberi jarak, atau justru mendekat ke hal yang dianggap remeh. Tanpa sadar, semua itu tinggal di dalam kepala kita sebagai bahasa visual.
Lalu suatu hari, ketika kita memotret, bahasa itu bekerja sendiri.
Kita mengira sedang melihat dengan mata kita sendiri, padahal sering kali mata kita sudah lebih dulu dilatih oleh karya orang lain. Kita merasa menemukan siluet, refleksi, bayangan, garis, ruang kosong, atau gestur yang kuat. Tetapi kalau diperiksa lebih dalam, mungkin kita sedang berbicara menggunakan kosakata yang sudah diwariskan oleh banyak fotografer sebelum kita.
Ini bukan tuduhan.
Ini kenyataan.
Tidak ada cara melihat yang benar-benar murni. Penglihatan manusia selalu bersinggungan dengan ingatan, pengalaman, kebiasaan, dan referensi. Kita tidak memandang dunia sebagai permukaan netral. Kita memandangnya lewat lapisan-lapisan yang selama ini membentuk cara kita memahami visual.
Itulah sebabnya dua orang bisa berdiri di tempat yang sama, menghadap ke arah yang sama, menyaksikan kejadian yang sama, lalu pulang dengan foto yang sama sekali berbeda.
Bukan karena dunianya berubah.
Melainkan karena cara melihatnya berbeda.
Dan cara melihat itu tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh banyak hal yang sudah lebih dulu masuk ke dalam diri.
Mata tidak pernah netral
Di sinilah fotografi menjadi menarik sekaligus rumit.
Kita sering berkata bahwa kamera merekam kenyataan. Kalimat itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Kamera memang merekam apa yang ada di depannya. Namun apa yang dipilih untuk direkam, kapan momen itu diambil, dari sudut mana, dengan jarak seperti apa, dengan fokus ke mana, semuanya adalah keputusan.
Dan keputusan selalu lahir dari tafsir.
Seorang fotografer tidak berdiri di depan dunia sebagai cermin yang bening. Ia berdiri sebagai manusia yang membawa pengalaman, selera, ketakutan, kegembiraan, ketertarikan, luka, dan kecenderungan tertentu. Karena itu, yang difoto bukan dunia apa adanya, melainkan dunia sebagaimana ia dipahami oleh orang yang memotret.
Dua orang bisa berada di zebra cross yang sama. Yang satu melihat garis-garis putih. Yang satu melihat ritme lalu lintas. Yang satu melihat arah gerak. Yang satu melihat pertemuan manusia dan ruang. Yang satu melihat anak kecil yang sedang dituntun. Yang satu melihat bentuk. Yang satu melihat ketegangan. Yang satu melihat kesabaran.
Objeknya sama.
Tetapi tafsirnya berbeda.
Dan mungkin justru di situlah fotografi bekerja paling jujur: ia memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah melihat secara netral.
Kita selalu melihat dengan sejarah pribadi.
Di mana batas inspirasi dan plagiarisme?
Pertanyaan ini paling rawan, karena di sinilah orang sering tergoda menarik garis yang terlalu cepat.
Jika dua foto mirip, apakah salah satunya otomatis plagiat?
Belum tentu.
Kalau seorang fotografer belajar dari karya orang lain lalu pengaruh itu tampak dalam hasil fotonya, apakah itu berarti ia mencuri?
Juga belum tentu.
Sebab pengaruh adalah bagian dari pendidikan visual. Tidak ada pelukis yang tumbuh tanpa pelukis lain. Tidak ada penulis yang benar-benar berangkat dari kekosongan. Tidak ada musisi yang tidak pernah mendengar musik sebelumnya. Lalu mengapa fotografi harus dipaksa menjadi satu-satunya medium yang diwajibkan steril dari pengaruh?
Masalahnya bukan pada kemiripan semata.
Masalahnya muncul ketika seseorang berhenti berpikir dan hanya menempel pada bentuk luar. Ketika yang disalin bukan dialognya, melainkan kulitnya. Ketika yang diambil bukan semangat pencariannya, melainkan permukaan gayanya saja.
Di situlah plagiarisme mulai terasa.
Batasnya memang kabur. Dan justru karena kabur, kita perlu hati-hati.
Sebab tidak semua kesamaan lahir dari niat meniru. Ada kesamaan yang lahir karena dunia memang terbatas. Ada subjek yang berulang. Ada komposisi yang secara visual memang kuat. Ada bahasa fotografi yang secara historis memang sudah dipakai banyak orang. Ada pula kecenderungan manusia untuk kembali ke bentuk-bentuk tertentu karena bentuk itu paling mudah dibaca.
Maka, pertanyaan yang lebih berguna mungkin bukan, “Apakah foto ini mirip dengan foto lain?”
Melainkan, “Apa yang membuatnya tetap hidup sebagai foto yang lahir dari kesadaran yang berbeda?”
Mungkin yang orisinal bukan fotonya
Ini bagian yang paling penting.
Mungkin kita terlalu sibuk mencari foto yang belum pernah ada.
Padahal yang benar-benar sulit bukanlah menemukan subjek baru. Yang sulit adalah menemukan cara melihat yang terasa jujur terhadap diri sendiri.
Orisinalitas, kalau masih mau dipakai sebagai kata, mungkin bukan berarti ketiadaan pengaruh. Orisinalitas bukan ruang kosong. Orisinalitas bukan kebebasan total dari jejak orang lain. Itu mustahil.
Orisinalitas justru mungkin muncul ketika pengaruh-pengaruh yang masuk ke dalam diri tidak dibiarkan menjadi tiruan mentah, tetapi diolah, disaring, ditumbuk, dipertanyakan, lalu disusun ulang sampai akhirnya menjadi sesuatu yang punya denyut pribadi.
Dengan kata lain, yang orisinal bukan sekadar fotonya.
Yang orisinal adalah kesadaran yang melahirkan foto itu.
Kesadaran seperti ini tidak lahir dari teknik semata. Ia lahir dari pengalaman hidup. Dari apa yang pernah kita lihat. Dari apa yang pernah kita cintai. Dari apa yang pernah membuat kita diam lebih lama. Dari hal-hal yang mungkin tidak bisa dijelaskan dengan diagram komposisi, tetapi terasa hadir setiap kali kita menekan tombol rana.
Di titik inilah dua fotografer yang memotret subjek sama bisa menghasilkan karya yang berbeda total. Bukan karena satu lebih pintar dari yang lain. Bukan karena satu lebih inovatif dari yang lain. Melainkan karena masing-masing membawa kehidupan yang berbeda ke dalam cara mereka melihat.
Dan kehidupan, betapapun seringnya kita berusaha menyembunyikannya di balik teknik, selalu ikut bocor ke dalam foto.
Dunia sama, cara kita melihat berubah
Mungkin pada akhirnya, pertanyaan “Adakah foto yang benar-benar orisinal?” tidak meminta jawaban tegas ya atau tidak.
Mungkin pertanyaan itu justru mengajak kita lebih jujur.
Bahwa tidak ada karya yang lahir sendirian.
Bahwa setiap foto berdiri di atas banyak foto lain yang pernah kita lihat.
Bahwa setiap cara melihat dibentuk oleh sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Bahwa pengaruh bukan aib, melainkan bagian dari proses menjadi.
Kalau begitu, barangkali yang perlu kita jaga bukan obsesi untuk menjadi yang paling baru. Yang perlu dijaga adalah kejujuran untuk mengakui dari mana cara melihat kita berasal, lalu keberanian untuk mengolahnya menjadi suara yang tidak sekadar meniru.
Dunia mungkin tidak berubah terlalu banyak.
Matahari tetap terbit, jalanan tetap ramai, laut tetap bergeser, manusia tetap berjalan, menunggu, kehilangan, dan mencari.
Tetapi cara kita memandangnya terus berubah.
Dan mungkin, di sanalah letak orisinalitas yang paling masuk akal.
Bukan pada dunia yang baru.
Melainkan pada manusia yang baru dalam memandang dunia yang sama.
Kalau begitu, barangkali pertanyaannya memang bukan...
“Bagaimana membuat foto yang belum pernah ada?”
Melainkan...
“Apa yang hanya bisa kulihat karena aku pernah menjadi diriku?”
Dan pertanyaan itu, sepertinya, tidak akan pernah selesai dijawab.
Komentar
Posting Komentar