Garis yang Tak Pernah Cukup

 Aku sudah menarik

garis

di tempat yang seharusnya.


Kujaga langkah

agar tak melampaui.


Kujaga kata

agar tak berubah makna.


Kujaga jarak

agar semua

tetap nyaman.


Kukira,

selama tubuh tahu batas,

hati akan ikut patuh.


Ternyata tidak.


Ada rindu

yang tidak meminta izin

untuk tumbuh.


Ia hadir

justru ketika

aku sedang berusaha

tidak memikirkannya.


Aku tidak pernah

memintanya datang.


Bahkan berkali-kali

berharap ia pulang

ke tempat yang semestinya.


Namun perasaan

tidak mengenal

mana yang boleh

dan mana yang tidak.


Ia hanya tahu

ke mana

ia selalu ingin pulang.


Maka aku tetap

menjaga garis itu.


Bukan karena

rindu telah selesai.


Melainkan karena

ada ketenangan

yang tak boleh

kehilangan tempatnya.


Dan mungkin,

yang paling melelahkan

bukanlah menahan langkah.


Melainkan

setiap hari

mengajari hati

tentang batas...


sementara ia

tak pernah benar-benar

memahaminya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Sabar Menunggu