Yang Pergi Tidak Selalu Mengurangi Kita

Pagi tadi aku kembali menyusuri pasar di sisi rel kereta

Sudah beberapa kali aku datang ke tempat itu, tetapi rasanya selalu ada hal baru yang menunggu untuk ditemukan. Mungkin memang begitu sifat sebuah pasar. Ia tidak pernah benar-benar sama. Pedagangnya bisa saja orang yang sama, lapaknya tetap di tempat yang sama, tetapi cerita yang lahir setiap pagi selalu berbeda.

Kamera menggantung di bahuku. Aku tidak sedang mengejar foto tertentu. Pengalaman mengajariku bahwa foto terbaik sering kali muncul ketika aku berhenti memaksakan diri untuk mencarinya.

Pasar itu tidak memiliki lorong-lorong yang rapi. Lapak-lapak berdiri mengikuti jalur rel kereta, seolah menyesuaikan diri dengan ruang yang tersisa. Di atas meja kayu sederhana tersusun sayuran yang masih basah. Ikan-ikan segar berjajar di atas bongkahan es. Sesekali aroma daun pisang, bawang merah, dan gorengan hangat berbaur menjadi satu. Bau yang mungkin hanya dimiliki oleh pasar pada pagi hari.

Suara tawar-menawar bersahutan dari berbagai arah.

"Cabainya berapa, Bu?"

"Kalau ambil dua kilo saya kurangi."

Tak jauh dari situ, seorang anak kecil sibuk memainkan mobil-mobilan di samping ibunya yang sedang memilih sayuran. Seorang bapak mengangkat keranjang belanja sambil bercanda dengan pedagang yang rupanya sudah menjadi langganannya.

Semua berlangsung begitu biasa.

Begitu akrab.

Begitu hidup.

Sesekali terdengar peluit kereta dari kejauhan.

Suara yang membuat hampir semua orang menoleh secara bersamaan.

Para pedagang menarik dagangannya sedikit menjauh dari rel. Pembeli menepi. Beberapa orang menghentikan percakapannya. Anak-anak yang tadi berlarian mendadak diam, memperhatikan rangkaian gerbong yang perlahan melintas.

Lalu kereta itu pergi.

Tak sampai semenit kemudian, pasar kembali bernapas seperti semula.

Tawar-menawar berlanjut.

Tawa kembali terdengar.

Seolah tidak pernah ada jeda.

Aku berdiri cukup lama memperhatikan semuanya.

Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu akrab dengan kehidupan.

Bukankah kita juga sering seperti itu?

Seseorang datang.

Mengisi ruang dalam hidup kita.

Lalu, pada waktunya, ia melanjutkan perjalanan.

Dan hidup, cepat atau lambat, kembali berjalan.

Di depan sebuah lapak sayur, seorang pedagang menyapa pembelinya.

"Lho, Bu... lama nggak kelihatan."

Perempuan itu tersenyum.

"Iya, kemarin anak saya pulang."

Mereka berbincang sebentar. Tentang harga cabai yang naik, tentang cuaca yang tak menentu, tentang anak yang baru pulang ke rumah. Tidak ada percakapan yang luar biasa. Tidak ada kalimat yang akan dikenang dunia.

Namun, entah kenapa, aku merasa percakapan sederhana seperti itulah yang membuat sebuah tempat terasa hidup.

Beberapa menit kemudian, pembeli itu pergi.

Pedagang itu kembali melayani orang berikutnya dengan senyum yang sama.

Tidak ada drama.

Tidak ada kesedihan.

Tidak ada keinginan menahan siapa pun agar tetap tinggal.

Semua memahami bahwa setiap orang sedang menjalani urusannya masing-masing.

Aku lalu bertanya pada diriku sendiri.

Mengapa kita begitu mudah menerima perpisahan-perpisahan kecil di tempat seperti ini, tetapi begitu sulit menerima ketika seseorang pergi dari kehidupan kita?

Mengapa kita sering menganggap kepergian sebagai kegagalan?

Padahal mungkin, sejak awal, hidup tidak pernah menjanjikan bahwa setiap pertemuan akan berlangsung selamanya.

Sebagai fotografer jalanan, aku sering mengalami hal yang sama.

Aku bertemu begitu banyak orang.

Kami dipertemukan hanya dalam hitungan detik.

Cukup selama aku mengangkat kamera, mengatur komposisi, lalu menekan tombol rana.

Sesudah itu kami kembali menjadi orang asing.

Aku tidak pernah tahu nama mereka.

Aku tidak tahu ke mana mereka pulang.

Aku juga tidak tahu bagaimana kehidupan mereka setelah hari itu.

Namun anehnya, beberapa dari mereka tetap tinggal.

Bukan sebagai teman.

Bukan sebagai keluarga.

Melainkan sebagai bagian dari cara pandangku terhadap hidup.

Kadang aku membuka kembali foto-foto lama.

Ada wajah seorang bapak yang tertawa lepas di warung kopi.

Seorang anak kecil yang berlari sambil menggenggam balon.

Seorang ibu yang tersenyum ketika dagangannya akhirnya laku.

Aku mungkin tak akan pernah bertemu mereka lagi.

Tetapi setiap kali foto-foto itu kubuka, aku seperti diingatkan bahwa hidup ini dibangun oleh begitu banyak pertemuan kecil yang nyaris terlupakan.

Mungkin memang tidak semua orang datang untuk tinggal.

Sebagian hadir hanya untuk meninggalkan sesuatu.

Pelajaran.

Keberanian.

Harapan.

Atau bahkan luka yang, tanpa kita sadari, membentuk diri kita menjadi seseorang yang berbeda.

Ketika meninggalkan pasar pagi tadi, aku melihat kembali hasil foto di layar kamera.

Ada belasan wajah yang berhasil kubawa pulang.

Namun yang sebenarnya kubawa bukanlah wajah-wajah itu.

Melainkan kesadaran bahwa hidup selalu bergerak, sebagaimana kereta yang melintas di samping pasar.

Ia tidak berhenti hanya karena kita belum siap ditinggalkan.

Ia terus berjalan.

Dan kita pun, pada akhirnya, belajar melanjutkan langkah.

Kini aku mulai percaya bahwa yang pergi tidak selalu mengurangi kita.

Ada orang-orang yang memang hanya ditakdirkan singgah sebentar.

Bukan untuk menjadi rumah, melainkan menjadi jendela.

Melalui mereka, kita melihat dunia dengan cara yang sebelumnya tak pernah kita bayangkan.

Lalu ketika mereka melanjutkan perjalanan, yang tertinggal bukan sekadar kenangan.

Melainkan cara baru untuk memandang hidup.

Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari sebuah pertemuan.

Bukan tentang seberapa lama seseorang tinggal.

Melainkan tentang seberapa besar ia mengubah kita sebelum akhirnya berpamitan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Sabar Menunggu