Kura Kura

Aku seorang kura-kura.

Bertahun-tahun aku belajar bersembunyi di dalam tempurung. Bukan karena aku takut pada dunia, tetapi karena aku pernah tahu bagaimana rasanya terluka olehnya.

Di dalam sana, aku merasa aman.

Tak banyak yang bisa menyentuh.

Tak banyak pula yang bisa menghancurkan.


Sampai suatu waktu, entah karena lupa atau karena merasa sudah sembuh, aku mulai mengeluarkan kepala.

Lalu kaki.

Pelan-pelan aku berjalan lagi.

Membiarkan seseorang mendekat.

Membiarkan kepercayaan tumbuh, tanpa banyak bertanya apakah dunia sudah berubah atau hanya aku yang sedang lengah.

Ternyata waktu tidak selalu menyembuhkan.

Kadang ia hanya membuat kita lupa di mana letak luka.


Dan hari ini aku kembali terluka.

Bukan hanya karena seseorang.

Tapi karena aku kembali menyalahkan diriku sendiri.


Mengapa keluar dari tempurung?

Mengapa percaya lagi?

Mengapa mengira kali ini akan berbeda?


Mungkin aku memang bodoh.

Atau mungkin, menjadi kura-kura bukan berarti harus selamanya bersembunyi.


Mungkin aku hanya perlu belajar satu hal:

tempurung bukan tempat untuk menghabiskan hidup.

Ia hanya tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu keras.


Untuk kalian, kura-kura di tempat lain yang mungkin sedang mengalami hal yang sama:

jangan membenci dirimu hanya karena pernah berani keluar dari tempurung.

Jangan menganggap dirimu bodoh hanya karena pernah percaya.

Luka bukan bukti bahwa keputusanmu untuk membuka diri adalah kesalahan.


Istirahatlah kalau perlu.

Masuklah kembali ke dalam tempurungmu.


Tapi jangan lupa, suatu hari nanti, ketika hati sudah cukup kuat, keluarlah lagi.

Bukan karena dunia sudah menjadi tempat yang aman.

Tapi karena kita tidak ingin luka menentukan seberapa jauh kita boleh berjalan.


Pelan-pelan saja.

Kita kura-kura.

Kita memang tidak diciptakan untuk berlari.

Tapi kita tetap diciptakan untuk berjalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika karya foto tidak lagi atas namaku

Seven Lakes Festival Probolinggo : Dua Event, Banyak Cerita

Sabar Menunggu