Minggir dan Menepi
Aku sering berpikir, manusia sebenarnya punya kemampuan yang cukup baik untuk membaca perubahan. Dari cara seseorang bersikap, waktu yang tak lagi sama, hingga hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian.
Masalahnya, memahami sesuatu tidak selalu berarti bersedia mengakuinya.
Aku termasuk orang yang bengal dalam urusan ini.
Kalau belum melihat sendiri, aku sulit percaya. Bahkan ketika tanda-tandanya sudah cukup jelas, selalu saja muncul alasan untuk menunda kesimpulan.
Bisa jadi aku salah membaca. Bisa jadi keadaan sedang tidak memungkinkan. Atau jangan-jangan aku hanya terlalu jauh memikirkan sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Begitulah caraku bernegosiasi dengan pikiran sendiri.
Padahal, semakin lama, semakin banyak hal yang berubah. Percakapan tidak lagi seperti sebelumnya. Waktu mulai memiliki prioritas berbeda. Beberapa sikap terasa asing, meski datang dari orang yang sama.
Aku melihat semuanya.
Hanya saja, aku lebih suka mencari penjelasan daripada menerima kenyataan yang pelan-pelan terbentuk di depan mata.
Sampai kemudian satu detail kecil muncul.
Sesuatu yang barangkali tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi cukup membuatku menghubungkan kembali banyak hal yang sebelumnya kubiarkan menggantung.
Lucu juga...
Hal-hal besar bisa kita abaikan begitu lama, sementara sesuatu yang tampak sepele justru sanggup menghentikan seluruh perdebatan di kepala.
Bukan karena satu detail itu mampu menjelaskan segalanya. Aku pun tidak tahu seluruh ceritanya.
Tetapi mendadak aku merasa tidak perlu lagi mencari pembenaran.
Aku mulai mengerti bahwa tidak semua perubahan harus dibicarakan. Tidak setiap jarak memerlukan penjelasan, dan tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Kadang, kita memang harus menyimpulkannya sendiri.
Tentu saja, menerima bukan perkara mudah. Apalagi ketika sebagian dari diri kita masih ingin mempertahankan sesuatu, sementara bagian lainnya sudah memahami bahwa keadaan tak lagi sama.
Namun aku juga mulai lelah dengan kebengalanku sendiri.
Lelah berpura-pura tidak mengerti sesuatu yang sebenarnya sudah lama terbaca.
Dan setelah kupikir lagi, tidak semua hal harus berakhir dengan percakapan panjang. Aku tidak perlu meminta penjelasan, memperdebatkan perubahan, atau memastikan siapa yang benar dan salah.
Aku hanya perlu tahu kapan harus berhenti menempatkan diri di ruang yang tak lagi sama.
Bukan karena marah.
Bukan pula untuk membuat seseorang merasa kehilangan.
Aku hanya ingin menghormati apa yang sudah kupahami.
Ada banyak sign yang sebenarnya sudah kubaca dan kupahami.
Aku hanya terlalu bengal untuk mengakui. Sampai satu detail kecil muncul, dan itu sudah cukup menjadi penegasan.
Kurasa, sudah waktunya untuk minggir dan menepi.
Komentar
Posting Komentar